Oleh Romi Tri Widagdo
Eksposure/pencahayaan adalah banyaknya sinar yang diterima oleh sensor/film. Apabila kurang sinarnya maka foto akan terlihat cendrung gelap/under, sedangkan apabila kelebihan maka foto akan terlihat cendrung keterangan/over.
Pencahayaan sendiri merupakan kombinasi antara AV/aperture value yaitu besar kecilnya diafragma, TV/time value/shutter speed yaitu lamanya bukaan rana, dan terakhir ISO/internasional standard organization yang dalam hal ini merupakan standard internasional untuk tingkat kepekaan sensor/film.
Komponen dari exposure:
a. Aperture
Aperture memiliki angka sebagai berikut (untuk pergeseran 1 stop): ...1; 1,4; 2; 2,8; 4; 5,6; 8; 11; 16; 22; 32;...
Maksud angka diatas sendiri adalah lubang yang terbuka pada lensa kita seper (angka diatas) dari luas lensa kita. Yang perlu dicermati bagaimana aperture mempengaruhi foto kita yaitu semakin lebar aperture dibuka (angka kecil) maka akan semakin sempit/pendek DOF/ruang tajam yang kita dapatkan. Dan semakin sempit lubangnya (angka besar) maka akan semakin panjang DOF/ruang tajam yang kita dapatkan.
Ada semacam teori bahwa suatu lensa itu akan maksimal lensanya dalam merekam subject apabila aperturnya diset sekitar 3 stop lebih sempit dari apertur terluasnya. Contoh, jika lensa dengan bukaan terlebar 2,8; maka foto terbeningnya akan kita temukan pada bukaan 8.
b. Shutter Speed
Ada pun angka pada shutter speed adalah sebagai berikut (untuk pergeseran satu stop): ...8000, 4000, 2000, 1000, 500, 250, 125, 60, 30, 15, 8, 4, 0'5, 1', 2', 4', 8', 15', 30', bulb (selama shutter ditekan camera akan terus merekam).
Maksud angka diatas sendiri adalah seper (angka diatas)detik dan detik untuk tanda '. Yang perlu dicermati bagaimana speed mempengaruhi foto kita yaitu dengan speed tinggi subject bergerak (apalagi diam) akan terlihat beku sehingga terlihat tajam.
Sedangkan pada speed rendah motion (gerakan) dari subject bergerak juga akan terekam oleh camera. Dan kalau dilamakan lagi pada saat tertentu benda bergerak tidak akan terekam sama sekali oleh camera (tidak ada pada foto). Nah, untuk menentukan speed sendiri agar foto kita freze (beku) dan tajam ada dua hal yang harus diperhatikan:
b1. Speed minimal untuk membekukan gerak subject (subject motion)
Pada dasarnya macam-macam tingkat shutter speed untuk membekukan subject. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan dari si subject sendiri. Seperti kalau motret orang yang sedang pause (pose) mungkin dengan 0,5 detik tetap beku. Tapi speed 0,5 detik belum tentu bisa membekukan orangn jalan. Antara jalan dan lari juga beda speed untuk membekukannya. Gerakan di atas panggung mungkin beku pada speed 1/125dtk. Tapi mungkin belum tentu bisa membekukan motor di jalanan. Begitu pula dengan orang yang sedang balapan tentu harus lebih cepat lagi speed untuk membekukannya.
Namun selain dari kecepatan subject sendiri, ada hal lain yang juga ikut mempengaruhi yaitu jarak subject kita dan arah gerakannya. Semakin dekat subject semakin cepat gerakannya. Ini alasan kenapa pesawat terbang yang begitu kencang tetapi terlihat pelan ketika di langit. Karena jaraknya memang jauh. Kalau arah gerakan subject mendekati atau menjauhi kita akan beda kecepatannya ketika si subject bergerak sejajar dengan pandangan kita.
b2. Speed minimal untuk melakukan pemotretan dengan cara hands held (dengan cara memegang kamera tanpa tumpuan atau tripot)
Pada prinsipnya makin panjang focal length yang kita gunakan maka akan makin gampang gerakan pada camera kita, yang akan ikut terekam pada foto. Makanya, rumus hands held ini dikaitkan dengan panjang focal length yaitu speed = 1/(panjang focal length)
Nah disinilah IS (image stabilizer) itu sangat berperan. Satu hal yang perlu di ingat, matikan IS jika anda memotret menggunakan tripot
Yang perlu ditekankan di sini:
- IS dan Tripot hanya untuk meredam getaran pada camera. Tapi tidak untuk membekukan subject.
- Tidak semua foto itu harus freeze, karena ada beberapa foto yang memang indah jika kita menggunakan speed rendah seperti memotret aliran sungai agar terlihat seperti kapas, memotret lampu mobil yang sedang ada di jalan, dan bahkan dalam aksi panggung akan lebih indah juga jika motionnya sedikit tertangkap.
- Bahkan ada tekhnik motret dimana kamera sengaja digoyang pada saat speed rendah.
c. ISO
Angka dari ISO sendiri yaitu (untuk perubahan 1 stop): ...50, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400. Semakin tinggi angka ISO maka akan semakin sensitif sensor/film apabila terkena sinar. Yang perlu diketahui bagaimana ISO mempengaruhi foto kita yaitu: ISO lebih tinggi akan cenderung menyebabkan foto lebih noise, kurang kontras,dan kurang resolusi.
Sedikit tambahan untuk angka-angka di atas yang berhubungan dengan stop adalah sebagai berikut: ketika anda memotret dengan exposure speed 60, diafragma 8, dan ISO 100... Ternyata anda beranggapan subject anda kurang beku dan memutuskan untuk menaikkan speed menjadi 125 (1 stop). Untuk mendapat nilai eksposure (gelap terang yang sama pada foto) berarti anda harus melebarkan bukaan diafragma anda menjadi 5,6 (dari 8 menjadi 5,6 = 1 stop) atau anda harus menaikkan ISO anda menjadi 200 (naik 1 stop).
Nah inilah factor teknis yang membuat foto tiap fotografer itu berbeda-beda. Dalam kondisi tertentu ada fotografer yang lebih suka mengorbankan speed, ada yang mengorbankan ruang tajam, dan ada yang lebih toleransi terhadap noise yang ada pada foto mereka.
Nah disinilah anda memberikan keputusan ingin menggunakan mode yang mana pada kreatif zone. Kalo prioritas anda pada diafragma misalnya karena anda ingin mendapat dof yang stabil gunakan mode AV karena aperture anda akan selalu tetap dan speed anda secara otomatis akan dicarikan camera.
Tapi kalau prioritas anda pada speed misalnya karena ingin selalu subjectnya beku, gunakan mode tv karena speed anda akan selalu tetap sedangkan apertur akan ditentukan secara otomatis oleh camera. Kalau terjadi mentok dimana contohnya pada stelan tv, anda tetapkan anda ingin memotret pada speed 125. Angka exposure anda pada metering camera menunjukkan angka 2,8 dan anda sedang menggunakan lensa dengan f terlebarnya maximal 2,8. Lalu angka tersebut berkedip-kedip, ini menandakan pada tingkat ISO yang sedang anda gunakan keadaannya masih under walaupun settingan otomatis yang dicarikan oleh kamera (dalam hal ini aperture) sudah maksimal. Berarti anda harus menaikkan ISO sampai aperturnya tidak berkedip lagi agar exposure yang anda dapatkan pas. B
iasanya ketika berkedip kalo anda paksa untuk memotret tanpa merubah ISO, maka speednya akan menyesuaikan sendiri yang pada kasus ini ke speed yang lebih rendah walaupun anda sedang menggunakan mode tv. Apabila anda ragu terhadapa nilai exposure yang anda ingin kan, ada baiknya anda melakukan braketing (AEB = auto exposure baketing) yaitu sebuah fasilitas dari camera dimana pada tiga frame yang kita foto akan terdapat ukuran under, ukuran yang pas menurut camera, dan ukuran over. Berapa stop under dan overnya pun dapat kita stel. Jadi setiap subject foto harus kita potret tiga kali, dan kita akan memperoleh tiga foto dengan exposure berbeda. Cara settingnya: menu --> AEB --> Set --> quick control dial (untuk menentukan berapa stopnya) --> set.
Read more...